Blogdzikry.com – The Social Dilemma (2020) merupakan film genre dokumenter yang menggambarkan bagaimana cara kerja sosial media online dalam meningkatkan perkembangan model bisnisnya, seperti bagaimana sosial media memperoleh perhatian pengguna, membentuk persepsi, mencari minat pengguna, menciptakan penjualan bagi pengiklan dan mempengaruhi individu atau kelompok dalam berbagai aspek.
Banyak platform sosial media yang dibahas secara mendalam pada film ini, seperti Facebook, Instagram, LinkedIn, Pinterest, Youtube, Tiktok hingga Google. Mungkin kita semua sudah familiar dengan berbagai platform ini yang seringkali kita gunakan untuk berbagai hal, entah itu mencari informasi, hiburan, melakukan komunikasi dan sebagainya.
Tentu, sosial media memiliki sisi positif dan negatif bagi penggunanya. Seperti memudahkan seseorang untuk mencari informasi secara singkat, berkomunikasi dengan teman atau saudara di berbagai tempat tanpa batas waktu. Yang tentu saja ini bisa dilakukan secara gratis, tanpa biaya tambahan yang pada dasarnya hanya membutuhkan smartphone dan koneksi internet sebagai penghubung ke sosial media tersebut.
Peran Algoritma dalam Sosial Media Online
Dalam film The Social Dilemma menjelaskan bahwa ada sebuah system yang berperan dalam mengatur pengguna untuk menghabiskan lebih banyak waktu di platform online miliknya, ini disebut sebagai algoritma. Pada dasarnya, algoritma merupakan sebuah cara yang diterapkan oleh berbagai sosial media online untuk menentukan minat dan konten tayangan pengguna.
Di sosial media, Algoritma berfungsi untuk mengelola dan mengatur ribuan hingga jutaan pengguna secara otomatis. Penggunaan algoritma bertujuan untuk mengembangkan bisnis model pada sosial media yaitu untuk mencari perhatian pengguna dan mencari lebih banyak pengguna baru.
Salah satu contoh penggunaan Algoritma yaitu fitur rekomendasi yang ada di Youtube dan Tiktok, ini memungkinkan pengguna untuk menemukan konten yang dia sukai dengan lebih cepat dan efisien.
Dampak Algoritma Sosial Media
Akan tetapi, Algoritma juga memiliki sisi positif dan negatif bagi pengguna. Sisi positifnya pengguna bisa menemukan konten sesuai preferensi yang disukai dan diminati, akan tetapi algoritma bisa menciptakan sisi adiktif atau kecanduan yang bisa membuat kita lupa waktu dan mampu membentuk persepsi terhadap suatu hal tergantung dari konten dilihat.
Film ini menggambarkan bahwa seseorang yang kecanduan dengan sosial media bisa menciptakan sikap acuh tak acuh terhadap berbagai hal di sekitar pengguna, contoh kecil dari hal ini yaitu pengguna bisa mengurangi waktu komunikasi bersama keluarga dekatnya, kehilangan minat yang sebelumnya disukai, sering bingung terhadap masa depan, susah fokus, mudah terdistraksi dan kurang percaya diri mengenai dirinya sendiri.
Ini adalah dampak negatif dari penerapan Algoritma yang ada di sosial media masa kini yang mempengaruhi individu dalam jangka pendek, lantas bagaimana dengan jangka panjang sisi negatif algoritma ini?
Banyak yang kurang menyadari hal ini, sosial media yang memiliki algoritma kompleks seringkali digunakan di berbagai kepentingan tertentu. Seperti membentuk persepsi (pemahaman) tentang suatu hal, menyebarkan berita palsu (Hoax & Disinformasi), memecah belah suatu kelompok, menyebarkan paham radikal hingga menimbulkan pemberontakan di suatu negara.
Bagaimana itu bisa terjadi? Dalam film The Social Dilemma dijelaskan bahwa dalam waktu singkat algoritma pada dasarnya tidak bisa membedakan mana itu berita benar dan palsu, ini juga tergantung dari setiap akun yang mendukung pernyataan dari algoritma terkait informasi tersebut. Ini bisa digunakan oleh banyak negara untuk berbagai kepentingan miliknya, contoh saja negara Rusia yang melakukan propaganda di negara Ukraina, Suriah untuk menyebarkan pengaruhnya.
Dalam hal ini, Rusia seringkali membuat proxy war di sosial media (Buzzer) dalam menyebarkan berita palsu di negara yang di bawah pengaruhnya. Rusia yang memiliki banyak dana dalam memanfaatkan sosial media online untuk menimbulkan kepanikan dan dukungan online terhadap kepentingan negaranya, banyak orang mulai terpecah belah dan membentuk kubu-kubu terkait apa yang diyakini benar. Ini disebut polarisasi kelompok, masyarakat mulai meyakini apa yang ia anggap benar dan menyalahkan kelompok lain yang tidak sepaham dengannya (berbeda pendapat).
Semua ini dapat terjadi karena model bisnis sosial media masa kini menggunakan algoritma dengan tujuan untuk meraih keuntungan dan profit setinggi-tingginya. Banyak berita palsu, disinformasi yang didukung penyebaran algoritma bisa menimbulkan kebingungan terhadap dunia nyata saat ini pada masyarakat.
Model Bisnis Sosial Media
Penerapan algoritma pada setiap pengguna ini bukanlah tanpa sebab, sistem algoritma berlaku pada semua akun secara otomatis, ini diciptakan karena model bisnis sosial media yang pada dasarnya menguntungkan pengiklan yang membayar mereka dengan cara menjual data tracking dari seluruh user yang menggunakan sosial media.
Algoritma berfungsi untuk mengetahui tingkah laku pengguna, mulai dari durasi penggunaan perangkat, niche yang disukai, hobi, minat bakat hingga emosi pengguna. Sehingga algoritma mampu memprediksi tingkah laku pengguna kedepannya.
Ini berkaitan dengan model bisnis pada media yang memanfaatkan algoritma untuk memaksimalkan keuntungan para pengiklan, setiap pengguna yang melihat iklan dihitung sebagai impresi dan klik. Tentu ini adalah jumlah satuan yang nantinya dikonversi untuk dibayar oleh pengiklan, contoh lain dari hal ini adalah Google Ads, Facebook Ads, Tiktok Ads dan sejenisnya.
Model bisnis seperti ini menjadikan pengguna seperti sapi perah yang bisa dikontrol terus-menerus untuk menghabiskan banyak waktu dalam menonton berbagai tayangan sesuai rekomendasi algoritma di platform online.
Kesimpulan
Film The Social Dilemma mengajarkan kita bahwa peran teknologi sangat membantu kita untuk terhubung satu sama lain, akan tetapi seiring berjalannya waktu teknologi juga mampu mengontrol perilaku kita. Ini tergantung bagaimana kita menyikapi suatu hal dengan bijaksana dan penuh kehati-hatian, teknologi memungkinkan kita untuk melakukan berbagai sesuatu dengan efisien namun penggunaan yang berlebihan bisa memicu reaksi negatif bagi pengguna.
Film ini menyadarkan kita bahwa pentingnya untuk memanfaatkan teknologi dengan memperhatikan berbagai aspek, seperti komunikasi, waktu, lokasi, tindakan dan masih banyak lagi. Dalam memanfaatkan sosial media, kita harus mampu melihat berbagai sisi dan tidak mudah terpengaruh dengan pihak yang melakukan provokasi atau tindakan kurang etis.